Bicara soal durian, apa sih yang pertama kali terlintas di pikiranmu?
Ada yang suka banget sama teksturnya yang creamy dan manis, ada juga yang ogah karena baunya yang khas. Tapi tau nggak sih? Durian bukan buah yang baru populer belakangan ini. Jauh sebelumnya, lebih dari seribu tahun lalu, durian udah muncul di naskah kuno Asia Tenggara, bahkan sempat dianggap sebagai buah persembahan untuk raja dan bangsawan.
Nah, hari ini kita jalan-jalan ke dalam sejarah durian, yuk. Kenalan lebih dekat sama buah legendaris yang dijuluki ‘Raja Buah’ ini.
Asal-usul Nama Durian
Nama ‘Durian’ berasal dari rumpun bahasa Austronesia, tepatnya dari kata duri, yang artinya ‘duri’.
Nama ini cocok banget, karena ciri khas durian yang paling kentara adalah kulitnya yang keras dan penuh duri.
Tahun 1774, ahli botani Swedia, Carl Linnaeus, waktu ngasih nama ilmiah durian, juga pakai nama lokal yang udah terkenal ini, dan resmi menamainya Durio zibethinus, yang jadi nama ilmiah durian yang paling dikenal sampai sekarang.
Naskah Kuno Seribu Tahun Lalu Udah Catat Durian
Banyak orang mengira durian baru mulai dibudidayakan di zaman modern, padahal tidak demikian.
Sejak abad ke-9 Masehi, dalam karya sastra Jawa kuno berjudul Kakawin Ramayana, sudah ada catatan tentang durian. Teks tersebut menggunakan kata ‘dūriyan’ untuk mendeskripsikan buah ini.
Ini berarti durian sudah memiliki sejarah tertulis setidaknya lebih dari seribu tahun, dan juga merupakan bagian yang cukup penting dalam budaya Asia Tenggara.

Durian kemungkinan besar berasal dari Kalimantan
Saat ini, kalangan akademisi umumnya sepakat bahwa asal-usul durian paling awal kemungkinan besar berada di Kalimantan (Borneo).
Kalimantan memiliki salah satu hutan hujan tropis tertua di dunia, dan hingga kini masih menyimpan banyak varietas durian liar. Karena itu, Kalimantan dianggap sebagai pusat evolusi penting bagi durian.
Selanjutnya, seiring migrasi manusia dan perdagangan maritim, durian perlahan menyebar ke wilayah yang kini menjadi Indonesia, Malaysia, Thailand, Brunei, dan Filipina, serta berkembang menjadi ratusan varietas berbeda.
Dulunya buah istimewa untuk dipersembahkan kepada raja
Di relief Candi Borobudur yang terkenal di Indonesia, terdapat ukiran pohon yang diduga menghasilkan buah durian.
Banyak sejarawan berpendapat bahwa di Asia Tenggara kuno, karena durian memiliki hasil panen terbatas, masa matangnya singkat, serta aromanya kuat dan teksturnya unik, buah ini sering dianggap sebagai buah istimewa dan digunakan sebagai hadiah untuk raja, keluarga kerajaan, serta tamu terhormat.
Ini juga membuat durian perlahan-lahan membangun simbol kemewahan dan kehormatan.
Kenapa Durian Dijuluki ‘Raja Buah’?
Durian dijuluki ‘Raja Buah’, kaya akan serat pangan, vitamin C, vitamin B kompleks, kalium, dan berbagai antioksidan. Kandungan ini membantu melancarkan pencernaan, menjaga daya tahan tubuh, mendukung metabolisme energi, serta fungsi saraf dan otot yang normal. Namun, kalori, gula, dan kalium durian lebih tinggi dibanding buah biasa — setiap 100 gram mengandung sekitar 145–170 kkal. Makanya, disarankan untuk dikonsumsi secukupnya.
Penderita diabetes, penyakit ginjal, yang sedang mengontrol berat badan, atau perlu membatasi asupan kalium sebaiknya jangan makan durian terlalu banyak dalam sekali waktu. Selain itu, orang dengan pencernaan sensitif yang makan berlebihan bisa mengalami kembung atau gangguan pencernaan. Untuk orang dewasa sehat, cukup makan 2–3 ruas (sekitar 100–150 gram daging buah) sekali makan — nikmatin rasanya sambil tetap jaga kesehatan.
Buat banyak orang, durian bukan cuma buah, tapi juga budaya, kenangan, dan salah satu simbol kuliner paling ikonik di Asia Tenggara.
Di Bali Bisa Makan Durian Nggak?
Jawabannya: bisa.
Setiap tahun, sekitar November hingga Maret tahun berikutnya adalah musim panen durian di sebagian besar wilayah Indonesia. Di Bali, kamu bisa nemuin durian segar di pasar tradisional, lapak buah pinggir jalan, dan beberapa supermarket.
Kalau mau cobain lebih banyak varietas, kamu juga bisa mampir ke daerah penghasil seperti Jawa Timur, Sumatera, atau Kalimantan — buat ngerasain kekayaan budaya durian Indonesia yang super beragam.
🥥Panduan Lengkap Musim Durian di Bali|Kapan Paling Wangi dan Termurah?
Penutup
Dari naskah kuno, hutan hujan Kalimantan, hingga persembahan kerajaan dan statusnya sebagai ‘Raja Buah’ yang mendunia saat ini, durian tidak hanya membawa aroma yang kuat, tetapi juga menyimpan sejarah Asia Tenggara yang membentang ribuan tahun.
Lain kali kamu ke Indonesia atau Bali, coba tinggalkan prasangka soal baunya, dan cicipi langsung buah penuh cerita ini. Siapa tahu kamu bakal sadar, kenapa durian bisa jadi ‘Raja Buah’ di hati banyak orang — itu benar-benar bukan omong kosong.
Lebih Banyak Rekomendasi Kuliner

- Petualangan Kuliner Bali: 10 Makanan Klasik & Camilan Wajib Coba
- 【Pengalaman Kuliner Bali】Alila Villas Uluwatu Brisa Brunch: Pesta Rasa Minggu di Tepi Tebing
- Kuliner dan Laut Biru di Nusa Penida: Top 10 Restoran Terbaik
- Rekomendasi Kuliner Ubud|Catatan Makanan Terbaik di Bali: Dari Bebek Betutu, Iga Babi, sampai Kafe Sawah yang Instagramable
- Ratu Buah Tropis - Musim Manggis di Indonesia/Bali
- 【Rekomendasi Kuliner + Pemandangan Ubud】Taman Dedari
FAQ
Di mana asal usul durian?
Saat ini diyakini secara umum bahwa durian berasal dari Kalimantan (Borneo), di mana masih banyak spesies durian liar yang tumbuh.
Kenapa durian disebut Durian?
‘Durian’ berasal dari kata duri dalam rumpun bahasa Austronesia, yang berarti ‘duri’, menggambarkan ciri khas kulit durian yang penuh duri tajam.
Kenapa durian dijuluki Raja Buah?
Meskipun tidak ada catatan pasti tentang asal-usul julukan ini, durian disebut ‘Raja Buah’ karena ukurannya yang besar, rasa yang unik, kandungan nutrisi yang kaya, serta peran pentingnya dalam budaya Asia Tenggara.
Di Bali bisa beli durian nggak sih?
Bisa banget, apalagi pas musim durian sekitar November sampai Maret tahun depannya. Di pasar tradisional, lapak buah, dan beberapa supermarket di Bali, kamu pasti nemu durian segar.
Belum ada diskusi — jadilah yang pertama bertanya.