Berita Bali|10/9/2026
✈️ Bali - Phuket penerbangan langsung makin nambah! TransNusa resmi buka rute, 7 kali seminggu
Koneksi udara antara Bali dan Phuket, Thailand, kini punya pilihan baru lagi.
TransNusa resmi membuka rute langsung Bali (DPS)–Phuket (HKT) pada 9 September, penerbangan perdana berangkat dari Bandara Internasional Ngurah Rai Bali, membawa 174 penumpang menuju Bandara Internasional Phuket.
Saat ini rute ini dioperasikan 7 kali seminggu, setiap hari satu kali.
Sebelumnya rute Bali–Phuket sudah dilayani oleh Indonesia AirAsia, dan kini TransNusa menjadi maskapai kedua yang menyediakan penerbangan langsung ini.
Buat traveler, ini bukan cuma tambah satu pesawat aja.
Bali + Phuket emang cocok banget buat digabung jadi wisata dua pulau. Sekarang makin banyak penerbangan, jadi makin gampang diatur:
Berangkat → Bali → Phuket → Pulang
atau kebalikannya.
Buat kamu yang pengen liburan ke dua pulau tropis Asia Tenggara sekaligus, ke depannya kombinasi tiket pesawat bakal makin fleksibel.
🌉 Jembatan Baru Nusa Lembongan-Nusa Ceningan! Nanti Mobil Juga Bisa Lewat
Transportasi antara Nusa Lembongan dan Nusa Ceningan sebentar lagi bakal berubah total.
Pemerintah setempat ngumumin bakal bangun jembatan baru buat kendaraan. Nggak cuma mengandalkan Yellow Bridge yang ikonik lagi.
Setelah jembatan baru jadi, mobil juga bisa lewat. Diharapkan bisa ngatasin masalah transportasi dan logistik antar dua pulau.
Ini sebenarnya penting banget buat para wisatawan.
Sekarang kalau mau ke Nusa Ceningan, banyak turis yang lewat Yellow Bridge buat nyambungin dua pulau, tapi kondisi jembatan yang ada sekarang terbatas buat dilewati dan ruangnya juga sempit.
Nanti kalau jembatan baru selesai, selain bikin perjalanan sehari-hari warga makin gampang, mungkin juga bakal bikin:
Penjemputan hotel, angkut barang, dan mobil wisata
jadi lebih mudah.
Tapi sekarang masih tahap pembangunan, bukan jembatan baru yang bisa langsung dilewati mobil sekarang, jadi buat turis dalam waktu dekat tetap atur perjalanan pakai cara yang ada aja.
🔥 Karangasem Alami 3 Kebakaran Berturut-turut! Musim Kering dan Angin Kencang Bikin Api Cepat Menyebar
Karangasem di timur Bali baru-baru ini kebakaran bertubi-tubi.
NusaBali melaporkan, antara 7 September sampai 8 September, ada 3 lokasi berbeda di Karangasem yang kebakaran, dua di antaranya di Kecamatan Kubu, dan satu lagi di Bebandem.
Pihak pemadam kebakaran dan instansi terkait setempat menyebutkan, cuaca di Kubu saat ini sangat kering, ditambah pengaruh angin, api bisa menyebar dengan cepat.
Ini ada hubungan langsung dengan kondisi musim di Bali saat ini.
Meskipun kita sudah masuk bulan September, Bali masih dalam musim kemarau, beberapa wilayah utara dan timur masih sangat kering.
Jadi kalau kamu punya rencana dalam waktu dekat:
Amed, Tulamben, Lempuyang, Tirta Gangga, Karangasem
dan destinasi Bali timur lainnya, disarankan tetap waspada terhadap kondisi cuaca dan jalan setempat.
Bukan berarti tempat-tempat ini nggak boleh dikunjungi, tapi risiko kebakaran hutan dan lahan di pegunungan masih ada selama musim kemarau.
🌊 Ombak di Bali Selatan mencapai 3 meter! Hati-hati kalau main air atau naik kapal
Ini salah satu pengingat paling berguna buat traveler hari ini.
Menurut prakiraan cuaca laut terbaru dari BMKG, pada 10 September, tinggi gelombang di perairan selatan Bali masih sekitar 1–3 meter; sementara di perairan utara Bali sekitar 0,5–1,25 meter.
Data BMKG juga menunjukkan bahwa tinggi gelombang signifikan di beberapa perairan selatan Bali masih bisa mencapai sekitar 2,9 meter.
Jadi kalau hari ini kamu punya rencana:
- Pantai di selatan Bali
- Surfing
- SUP
- Snorkeling
- Aktivitas ke laut
Sebaiknya cek dulu apakah operator lokal tetap berlayar atau tidak.
Apalagi jangan langsung mengira kondisi laut aman hanya karena cuaca terlihat ‘cerah’.
Cuaca di darat boleh cerah banget, tapi belum tentu ombak di laut juga bersahabat.
🌱 Bali Mau Jadikan ‘Aksi Iklim’ sebagai Ekonomi Baru! Fokus ke Industri Hijau & Pasar Karbon
Pemerintah Provinsi Bali kemarin kembali menegaskan, kebijakan iklim nggak cuma soal ‘melindungi lingkungan’, tapi mereka berharap ini bisa jadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Gubernur Bali, Wayan Koster, dalam Indonesia Carbon and Biodiversity Summit 2026 bilang, Bali ingin mengembangkan ekonomi hijau baru lewat aksi iklim, termasuk pasar karbon, keanekaragaman hayati, dan pembangunan berkelanjutan.
Arah ini sebenarnya patut diperhatikan oleh industri pariwisata.
Sebab kebijakan keberlanjutan Bali ke depan kemungkinan nggak cuma:
“Jangan buang sampah sembarangan.”
Tapi perlahan akan meluas ke:
Energi hotel, transportasi, pertanian, emisi karbon, pengembangan wisata, dan pengelolaan sumber daya alam.
Dengan kata lain, ke depannya saat kamu traveling di Bali, “wisata berkelanjutan” mungkin bakal berubah dari sekadar konsep jadi bagian dari kebijakan pariwisata.
Belum ada diskusi — jadilah yang pertama bertanya.