Kontribusi dari pakar komunitas yang ramah 賴佳瑩图文
Awalnya cuma pengen kabur ke Bali, males banget riset itinerary 😆 Akhirnya aku posting di grup komunitas minta tolong bikin ‘Blind Box Itinerary Ulang Tahun’ — biar orang lain yang atur perjalananku.
❤️ 16, 17, 18, 19, 20 Mei — Blind Box Itinerary Ulang Tahun 【Kebutuhan Blind Box】 Aku kasih budget, kamu yang atur semua kejutan itinerary.
❤️ Budget termasuk: biaya transportasi, bensin, tiket masuk, makanmu, dan semua pengeluaranku hari itu (makanan & aktivitas). ❤️ Selera jelas: nggak suka tempat wisata mainstream yang lagi hits. Dibanding tempat populer, aku lebih suka pemandangan laut yang cantik, tempat yang agak spiritual dan menenangkan, serta kuliner lokal yang berkualitas dan nggak terlalu komersial.
Eh ternyata, blind box itinerary ulang tahun beneran kejadian 🤣 Dan isinya super banyak! Pas aku lihat foto-foto, baru sadar banyak tempat yang bahkan bukan ‘tempat wisata’ — lebih ke tempat yang sering dikunjungi warga lokal atau tempat yang cuma dikenal dari mulut ke mulut. Tapi justru itu yang bikin perjalanan ini terasa spesial banget.
Sekarang update dulu Day 1.
Day 1|Terbang dari Taoyuan ke Bali, langsung ke pantai buat lihat sunset 🌅
Kali ini aku berangkat dari Bandara Taoyuan naik China Airlines CI771 kelas ekonomi. Awalnya ekonomi biasa, tapi pas mendadak upgrade ke premium economy bayar tambahan sekitar USD$84.
Jujur, buat penerbangan sejauh ini, menurutku sih worth it banget 👍 Ruangan duduknya lebih lega, makanannya juga beda, dan pengalaman terbang secara keseluruhan lebih enak. Buat yang begitu landing langsung pengen gas jalan-jalan, kondisi mentalnya tuh beda banget.
🛂 Proses Imigrasi Lebih Mulus dari yang Dibayangkan
Kali ini hampir semua urusan udah diurus online sebelum berangkat, jadi proses masuknya cepet banget sampai agak nggak nyangka.
1️⃣ Visa Elektronik (B1)
Aku apply visa elektronik sebelum berangkat, biayanya sekitar USD$32. Begitu landing langsung lewat jalur pemeriksaan elektronik, proses imigrasi cuma butuh 1 menit, nggak ada antre sama sekali.
Kalau kamu datang ke Bali pas musim ramai, aku saranin banget urus visa elektronik dulu. Antre VOA di lapangan kadang bikin kamu mikir ‘ini hidup atau apa’ 😆
2️⃣ Formulir Deklarasi Bea Cukai Elektronik
Ini juga mending diisi dari rumah. Tiga hari sebelum berangkat udah bisa lapor online, nanti tinggal screenshot QR Code-nya di HP, pas di lokasi tinggal scan aja selesai.
3️⃣ 觀光稅
Soal pajak turis, aku juga udah bayar online duluan, sekitar USD$10. Sekarang di Bali banyak proses yang perlahan-lahan jadi digital, urus dari awal bener-bener ngirit banyak waktu.
🍫 Belum Mulai Main, Udah Dapet Kejutan di Jalan
Di tengah perjalanan malah dikasih satu cokelat Dubai dari Heavenly Chocolate Bali.
Harus diakui, bagian paling seru dari blind box ulang tahun adalah—kamu nggak pernah tahu apa yang bakal muncul di detik berikutnya🤣 Kadang bukan soal barang mahal, tapi kejutan kecil kayak “ada yang diam-diam nyiapin sesuatu buat kamu” yang bikin mood perjalanan langsung naik drastis.
🌅 Langsung ke Jimbaran buat Lihat Sunset
Sesampainya di sana, nggak buang waktu, langsung gas ke Jimbaran.
Dokumentasi Lai Jiaying
Bali punya banyak tempat buat lihat sunset, tapi pemandangan khas Jimbaran — langit jingga-merah plus pesawat landing rendah — itu benar-benar ikonik banget. Apalagi kalau duduk di pantai, lihat langit berubah dari biru terang jadi keemasan, oranye, lalu membara sampai ke garis cakrawala. Rasanya kayak: “Ah, akhirnya aku benar-benar sampai di Bali.”
Kalau kamu naik penerbangan China Airlines yang jamnya pas, masih sempat ke Seminyak buat lihat matahari terbenam. Tapi kalau naik EVA Air, karena waktu kedatangannya lebih malam, aku pribadi lebih milih bertahan di Jimbaran aja biar aman. Soalnya kalau ke Seminyak, gampang banget kena macet jam pulang kerja.
🏠 Day 1 Akomodasi|Pelangi Bali Hotel & Spa di Seminyak
Malam pertama nginep di Pelangi Bali Hotel & Spa, Seminyak.

Dokumentasi Lai Jiaying
Dua orang semalem cuma sekitar USD$65 — menurutku worth it banget buat lokasi segini. Keunggulan utamanya: setelah check-in, tinggal jalan kaki ke pantai.

Dokumentasi Lai Jiaying
Gak perlu panggil taksi lagi, gak perlu pindah-pindah tempat. Malam-malam jalan kaki ke restoran tepi pantai buat makan malam, denger suara ombak, nikmatin angin laut — rasanya tuh kayak “liburan beneran dimulai”. Bikin nyaman banget.

Dokumentasi: Lai Jiaying
Pelangi Bali Hotel & Spa










Cek ketersediaan kamar & harga: Agoda Trip Booking
Lebih Banyak Rekomendasi Makan, Minum, dan Seru-seruan di Seminyak

Seminyak adalah kawasan di Bali yang memadukan gaya modern dan tradisional dengan sempurna. Di sini ada restoran kelas atas, butik-butik keren, dan kehidupan malam yang super seru — surga banget buat liburan! Mau tahu info seru soal hiburan dan kuliner lainnya? Klik di sini
Review Akomodasi di Seminyak
- Rekomendasi Akomodasi Bali: 10+ Penginapan Tema Pesisir Mewah di Seminyak
- SeminyakSurga Pribadi Villa Kolam Renang: 22 Villa Bali yang Memukau di Seminyak
- 50+ Panduan Kuliner Eat Street Seminyak
- Wajib Koleksi buat Foodie! 8 Villa & Hotel Berkualitas Tinggi dengan Harga Worth It di Dekat Eat Street
- Rekomendasi Villa Pribadi Seminyak untuk Keluarga: 3, 4, 5, 6 Kamar atau Lebih
Day 2|Jalan Pagi di Pantai, Beach Club, Kunjungan Sosial, dan Akhirnya Hari yang Santai di Sanur 🌊
Irama hari kedua ini benar-benar sesuai dengan gaya liburan Bali impianku. Gak ada acara padet-padetan, gak ada buru-buru dari pagi sampai malam. Malah bergantian antara jalan di pantai, nongkrong di coffee bar, ruang sosial, dan ritme santai khas Sanur.
🌞 Pantai Seminyak di Pagi Hari, Lebih Menawan dari Siang
Sekitar jam enam pagi, langsung jalan dari pintu belakang hotel ke pantai.
Ini juga alasan kenapa aku suka banget nginep di hotel tepi pantai. Gak perlu repot atur itinerary, cukup bangun pagi dan langsung bisa jalan-jalan di pasir — udah worth it banget.
Pagi hari di Pantai Seminyak tuh beda banget sama malam hari. Gak ada musik yang bising, juga gak penuh turis. Cuma ada suara ombak, orang jogging pagi, dan beberapa bule yang udah mulai nyebur surfing.
Dan gak bisa dipungkiri, pagi hari di Seminyak tuh ‘densitas cowok surfing ganteng’-nya tinggi banget 🤣 Banyak yang udah turun ke laut sebelum matahari terbit, vibe pantainya super chill. Lihat mereka bawa papan surfing ke laut, rasanya kayak: ‘Ini baru namanya keseharian di Bali.’
🍸 Atlas Beach Club|Beach Club Terbesar di Dunia yang Legendaris
Siangnya aku mampir ke Atlas Beach Club yang lagi hits banget sekarang.

Atlas Beach Club (foto oleh Lai Jiaying)
Tempat ini punya julukan ‘Beach Club terbesar di dunia’, dan pas lihat langsung, skalanya bener-bener bikin kaget. Ruangannya luas banget, dari kolam renang, area DJ, restoran, sampai sofa area, hampir kayak resort mini.
Kali ini karena kerja sama dengan TUL BLUE BERAWA, tamu yang nginep di tipe suite ke atas bisa masuk gratis, plus langsung dapet sofa area paling depan dan satu welcome drink. Area depan tuh beda banget, bisa langsung lihat pemandangan laut, ombak, musik, keramaian, dan sunset — vibes-nya kuat banget.
Tapi menurutku pribadi, Atlas lebih cocok buat yang suka ‘Beach Club tipe pesta yang rame’. Kalau kamu suka musik, suasana rame, dan tempat yang instagramable, ini cocok banget. Tapi kalau kamu lebih suka tempat yang tenang buat santai, mungkin lebih suka beach club lain.
🍰 Nusa Dua 下午茶 di Kempinski|Pemandangan lautnya bikin nilai tambah banget
Sore-sore mampir ke Kempinski di Nusa Dua buat afternoon tea.

The Apurva Kempinski Bali — foto oleh Lai Jiaying
Gue sangat recommend reservasi kursi dengan pemandangan laut. Duduk di posisi menghadap laut itu beda dunia banget sama duduk di dalam ruangan biasa.
Sambil minum teh, sambil ngeliat Samudra Hindia, ritme hidup langsung terasa melambat. Apalagi arsitektur Kempinski sendiri megah banget, perpaduan elemen tradisional Bali dengan gaya modern — banyak sudut yang oke buat foto.
Harga afternoon tea sekitar USD$23 per orang, menurut gue worth it untuk level hotel dan pemandangan yang ditawarkan.
💚 Bali Life Foundation|Perjalanan paling berkesan di trip ini
Yang paling berkesan di sore hari sebenarnya bukan tempat wisata, tapi kunjungan ke Bali Life Foundation.
Disediakan oleh Bali Life Foundation – Lai Jiaying
Yayasan buka untuk kunjungan预约 setiap Jumat jam 4 sore sampai 7 malam. Area yayasannya sih nggak terlalu besar, saat ini menampung sekitar 50 anak.
Pas kita sampai, lagi siap-siap nurunin beras dan minyak goreng yang mau didonasikan. Eh, tiba-tiba beberapa bocah langsung inisiatif bantu angkut.
Yang paling bikin aku kaget — anak-anak itu umurnya mungkin baru 5-6 tahun, tapi mereka bisa angkut sendiri karung beras 10 kg.
Adegan itu sebenernya cukup mengena banget. Kamu jadi sadar, lingkungan tumbuh beberapa anak itu bener-bener beda jauh sama dunia yang biasa kita kenal.
Tapi di sisi lain, mereka nggak kelihatan sedih. Malah terus ketawa, ngobrol, bahkan inisiatif bantu sambut tamu.

Disediakan oleh Lai Jiaying
Yayasan juga makan malam bareng jam 6, dan pengunjung boleh ikut makan. Dibanding sekadar ‘tour’, rasanya lebih kayak numpang masuk sejenak ke keseharian mereka.
Oh iya, mereka juga punya TK yang buka dari setengah hari sampai full day. Banyak orang tua bule yang surfing atau kerja di Bali nitipin anaknya di sini. Pendapatan dari situ juga dipakai buat bantu biaya operasional yayasan.
Aku pribadi suka banget sama model kayak gini. Bukan sepenuhnya ngandelin donasi, tapi berusaha bikin siklus yang bisa jalan terus dalam jangka panjang.
🏠 Malam Ini Nginep di Hotel Pantai Sanur
Malamnya pindah ke Sanur, check-in di Respati Beach Hotel.
Hotel ini tipikal banget gaya pantai Sanur. Nggak lebay, tapi lokasinya super nyaman.
Dua orang semalem sekitar USD$65, tinggal jalan kaki ke pantai, dan sekitar lima menit jalan kaki ke mal — fasilitasnya praktis banget.
Sanur tuh beda banget sama Seminyak atau Canggu. Ritmenya jauh lebih santai. Nggak ada vibe pesta, lebih cocok buat jalan-jalan santai, ngelamun, dan nikmatin hidup pelan-pelan.
Respati Beach Hotel - Lokasinya Super Strategis










Cek ketersediaan kamar & harga: Agoda Trip Booking
🛍️ Icon Bali Mall|Mall dengan Pemandangan Laut yang Lagi Hits Banget
Setelah menaruh barang, kami lanjut jalan-jalan ke Icon Bali Mall.

ICON Bali Mall (dok. Lai Jiaying)
Ini mall baru yang lagi banyak dibicarain di Sanur. Keunggulan utamanya? Pemandangan laut yang keren abis.
Banyak spot yang langsung ngadep laut, ditambah ruangannya masih baru dan AC-nya dingin banget (haha). Sekarang udah jadi tempat yang sering dicek sama orang-orang yang ke Sanur.

Kali ini aku juga beli parfum dari Secret Garden. (dok. Lai Jiaying) Banyak brand parfum di Indonesia yang harganya oke, beberapa aromanya juga tropis banget — cocok dibawa pulang sebagai oleh-oleh.
Day 3|Hari yang Santai di Sanur, Lembut Banget Sampai Gak Pengin Pergi 🌿
Hari ketiga gak ada rencana yang dipaksain. Bangun siang, terus mutusin buat habisin seharian di Sanur.

(dok. Lai Jiaying)
Banyak orang yang pertama kali ke Bali fokus ke Seminyak, Canggu, Ubud. Tapi aku pribadi suka banget sama Sanur yang punya ‘vibe pantai yang slow’. Gak terlalu rame, gak terlalu turistik — lebih kayak tempat yang beneran bisa ditinggali.
🌅 Jalan-jalan di Pantai Sanur|Angin laut pagi yang lembut banget
Pagi-pagi langsung jalan-jalan ke Sanur Beach.
Laut di Sanur beda banget sama yang di pesisir barat Bali. Ombaknya lebih tenang, pagi-pagi permukaan lautnya kayak cermin gitu.
Gak ada musik dari Beach Club, juga gak penuh sama keramaian. Cuma ada orang jalan kaki, naik sepeda, dan yang duduk termenung di pinggir pantai.
Aku suka banget sama udara pagi di Sanur. Angin lautnya bukan yang kencang, tapi lembut dan nyaman, bikin kita gak sadar jadi pelan-pelan.
Kadang momen paling healing dalam perjalanan bukan karena banyak tempat yang dikunjungi, tapi saat kita gak ngapa-ngapain, cuma duduk di pinggir pantai sambil ngeliat garis cakrawala.
🧸 Toko Senyuman|Singgah yang lebih bermakna dari sekadar belanja
Kali ini aku sengaja bawa boneka dari Taiwan buat didonasikan.
Toko ‘Smile Shop’ ini sebenarnya adalah toko barang bekas amal yang dijalankan oleh Yayasan Senyum Bali.

Disediakan oleh Yayasan Senyum Bali – Lai Jiaying
Yayasan ini sudah lama membantu anak-anak di Indonesia yang mengalami celah bibir dan langit-langit serta kelainan bentuk wajah, dengan menggalang dana medis dan mengatur operasi, dengan harapan bisa mengembalikan senyum mereka.
Aku pribadi sangat mengagumi organisasi amal seperti ini. Karena yang mereka lakukan bukan sekadar bantuan jangka pendek, tapi benar-benar bisa mengubah masa depan seorang anak.
Dan saat kamu ke sini, kamu bakal ngerasa suasananya hangat banget, nggak bikin stres. Lebih kayak bentuk dukungan yang tulus.
🧶 Acara Merajut Lintas Negara yang Hangat Banget
Kebetulan aku ikut juga acara merajut lintas negara yang spesial banget.
Orang-orang dari berbagai negara berkumpul, merajut ‘payudara palsu’ jahit demi jahit.

Disediakan oleh Lai Jiaying
Semua bra rajutan tangan ini nantinya bakal disumbangkan ke komunitas terkait, buat dipakai oleh perempuan pasca operasi kanker payudara. Dibanding bra biasa, yang rajutan ini lebih ringan, lebih lembut, dan lebih nyaman di kulit.
Suasana di sana tuh sebenarnya cukup hening. Semua orang fokus merajut sambil menunduk, ada yang ngobrol, ada yang berbagi cerita. Nggak ada kata-kata yang lebay, tapi rasa lembutnya perlahan menumpuk.
Kadang kenangan paling berharga dari perjalanan bukan soal tempat wisata yang keren banget, melainkan momen kecil dan nyata seperti ini—koneksi antarmanusia.
💆♀️ Spa yang hampir selalu aku kunjungi tiap ke Sanur
Sore harinya ya pasti pijat lagi lah 🤣
Kali ini aku balik lagi ke The Nest Boutique Spa, tempat yang hampir selalu aku datengin tiap ke sini.

The Nest Boutique Spa (Foto: Lai Jiaying)
Termasuk dalam 【Edisi Lengkap】Rekomendasi Spa Terbaik di Bali & Kumpulan Pijat ke Villa, Dibagi per Area Biar Lebih Gampang Dicari
Sanur emang banyak banget tempat pijat, tapi aku rasa kualitas tempat ini konsisten banget. Lingkungannya nyaman, tekanannya pas, bukan yang asal-asalan kayak di kawasan turis.
Dan jujur, traveling di Bali kadang emang butuh banget yang namanya pijat. Setiap hari jalan kaki, kena panas, naik kendaraan pindah tempat — abis dipijat, badan langsung balik bugar.
🛍️ Abis Pijat Langsung Mode Belanja On
Setelah pijat selesai, badan terasa enteng banget, langsung gas ke mall lanjut shopping 🤣
![]()
Dokumentasi Lai Jiaying
Sanur sekarang makin ke sini makin nyaman. Enggak kayak dulu yang banyak orang bilang “agak kuno”, sekarang mall besar, restoran, kafe makin banyak, tapi suasananya masih santai kayak dulu.
💡 Alasan Kenapa Aku Makin Suka Sanur
Lokasi hotel yang aku tinggalin kali ini tuh juara banget, agak gila sih.
Toko pijat, pantai, shopping mall, tempat penukaran uang — semuanya bisa dijangkau dalam 3 menit jalan kaki 👍👍
Kenyamanan kayak gini tuh penting banget di Bali. Karena banyak tempat yang keliatannya deket, tapi aslinya bisa macet parah bikin kamu mempertanyakan hidup.
Nah, Sanur punya satu kelebihan besar — fasilitas sehari-hari lengkap, tapi suasananya tetap adem dan nyaman.
Apalagi kalau kamu bukan pertama kali ke Bali, mulai males tiap hari ke tempat wisata, dan cuma pengen cari tempat nyaman buat santai, jalan-jalan, makan, pijat — aku bakal banget rekomendasiin luangin beberapa hari di Sanur.
Lebih Banyak Rekomendasi Makan, Minum, dan Main di Sanur

Sanur adalah sebuah kota kecil di tepi pantai di Bali yang penuh dengan ketenangan, terkenal dengan pantainya yang tenang, suasana santai, dan pemandangan matahari terbit yang spektakuler. Di sini ada resor ramah keluarga, pasar tradisional, dan beragam kuliner lokal yang kaya — tempat ideal buat menikmati slow living sambil eksplorasi budaya. Mau jalan-jalan di sepanjang garis pantai atau merasakan vibes lokal, Sanur bakal kasih kamu liburan super santai! Mau tahu lebih banyak tips Sanur? Klik di sini
Penginapan di Sanur
- Rekomendasi Akomodasi di Bali: 20+ Resor/Villa di Sanur, dari Mewah sampai Budget
- Panduan Liburan Keluarga ke Bali Saat Liburan Sekolah: Panduan Lengkap Biar Liburan Keluarga Makin Santai - Seri Sanur
- Penghargaan Tertinggi "Hotel Baru Terbaik di Indonesia 2026" The Meru Sanur
- Wisata Grup ke Bali: Rekomendasi Villa Pribadi di Sanur untuk 3/4/5/6+ Kamar, Cocok buat Keluarga Besar
Day 4|Naik Motor Lewati Jalan Pegunungan, dari Pura Tirta Empul Sampai ke Ubud dan Sanur 🛵
Hari keempat langsung gas mode road trip pakai motor. Jam tujuh pagi tepat berangkat dari Sanur, terus meluncur ke arah tengah Bali.
Jujur, naik motor di Bali tuh ada sensasi kebebasan yang beda banget. Sepanjang jalan bakal lewati desa kecil, sawah terasering, pura, jalan pegunungan — kadang cuma pas berhenti di lampu merah lihat sesajen di pinggir jalan, warung sarapan, anak sekolah naik motor, rasanya: “Ah, ini baru keseharian Bali yang sesungguhnya.”
Tapi inget ya, kalau kamu nggak terlalu jago naik motor atau belum terbiasa sama ritme lalu lintas Asia Tenggara, mending sewa sopir aja biar lebih santai 🤣
🙏 Pura Tirta Empul|Datang pagi-pagi beneran beda banget
Destinasi pertama langsung gas ke Pura Tirta Empul.

Tirta Empul Temple — foto oleh 賴佳瑩
Kami sampai cukup pagi, jadi pengunjung belum terlalu ramai. Sebelumnya aku sering lihat foto-foto online yang penuh antrean panjang, tapi datang pagi bikin jauh lebih nyaman. Pengalaman foto dan ikut ritual pemurnian juga beda banget.
Yang paling terkenal dari Pura Tirta Empul ya air suci untuk pemurnian. Banyak penduduk lokal dan turis yang antre di setiap pancuran untuk melakukan ritual pembersihan diri.
Suasananya di sana sebenarnya cukup hening. Meskipun turisnya lumayan banyak, tetap terasa energi yang sangat tenang.
Tapi aku harus kasih peringatan serius nih:
⭐️ Nggak ada hair dryer. ⭐️ Nggak ada hair dryer. ⭐️ Nggak ada hair dryer.
Rambut basah beneran cuma bisa dikeringin alami 🤣 Untung aku bawa handuk sendiri, kalau naik motor kena angin pasti super stres.
🧱 Desa Penglipuran|Desa tradisional yang terasa sangat autentik
Lanjut naik ke utara, sampai di Desa Penglipuran.

Penglipuran Village — foto oleh Lai Jiaying
Desa ini terkenal sebagai ‘salah satu desa terbersih di dunia’. Lingkungannya benar-benar tertata rapi banget, dan masih mempertahankan banyak arsitektur tradisional Bali.
Bedanya sama tempat wisata biasa, ini masih kampung yang benar-benar dihuni. Di depan banyak rumah ada warung kecil yang jual minuman, camilan, suvenir — suasananya sederhana banget.
Aku pribadi suka banget ritme di sini. Nggak perlu ngapa-ngapain, cukup jalan santai, lihat-lihat.
Beberapa warung juga jual jajanan lokal. Kalau capek naik motor, cocok banget mampir duduk istirahat.
☕ Terasering Tegallalang|TIS Cafe, pemandangannya bener-bener gila
Setelah keluar desa, lanjut lewat jalan pegunungan menuju arah Terasering Tegallalang. Kali ini langsung mampir ke TIS Cafe yang lagi hits banget buat foto-foto.

TIS Cafe (foto oleh Lai Jiaying)
Banyak yang bilang ini ‘cafe hits buat foto aesthetic’, tapi jujur aja, pemandangannya emang juara banget. Duduk di kursi yang menghadap sawah terasering, liat hamparan hijau lembah yang bertumpuk-tumpuk, bikin kamu gampang bengong.
Belum lagi angin di atas gunung tuh sepoi-sepoi banget. Beda banget sama angin pantai yang panas dan lengket.
Menurutku sih, tempat kayak gini cocok banget diselipin di tengah perjalanan naik motor. Sambil ngopi, liat pemandangan gunung, sekalian istirahatin pantat 🤣
🍛 Makan Siang Klasik Ubud|Bebek Tepi Sawah (Bebek Goreng Kotor)
Siangnya langsung gas ke tempat bebek goreng legendaris di Ubud.

Bebek Tepi Sawah (foto oleh Lai Jiaying)
Crispy Duck-nya di sini juara banget. Kulitnya digoreng super renyah, dagingnya nggak kering, bahkan sampai ke tulang-tulangnya masih wangi.
Dimakan bareng sambal Indonesia, rasanya bikin nagih banget.

Disediakan oleh Lai Jiaying
Tapi aku mau bilang dulu — sambalnya pedas banget sih 🤣🤣
Buat kamu yang biasanya cuma makan pedas level kecil, saran aku coba pelan-pelan aja, kalau nggak nanti sepanjang jalan cari minum terus.
💦 Air Terjun Tegenungan|Turunnya asyik, naiknya capek 🤣
Setelah kenyang, lanjut perjalanan ke selatan, mampir sebentar ke Air Terjun Tegenungan.
Air terjun ini termasuk salah satu yang paling gampang dijangkau di Bali. Nggak perlu trekking jauh di gunung, tapi tetap harus jalan turun ke lembah.
Pas deket-deket air terjun, sensasi uap air yang langsung nyerang itu beneran bikin merinding. Suara air terjunnya keras banget, hampir nggak kedengeran kalau ngobrol di sampingnya.
Dan satu hal unik dari air terjun di Bali — banyak yang bukan tipe ‘ramping panjang’, tapi debit airnya tebal dan penuh tenaga.
Satu-satunya masalah adalah…
Naik ke sini lumayan ngos-ngosan sih 😆 Apalagi kalau habis makan bebek betutu terus naik tangga, rasanya kayak hidup lagi diuji.
Lebih Banyak Seru-seruan di Ubud: Makan, Main, dan Nongkrong

Ubud adalah pusat seni dan budaya di Bali. Sawah terasering yang hijau, hutan yang tenang, dan tradisi yang dalam bikin siapa pun betah. Tempat ini cocok banget buat kamu yang mau rileks. Mau eksplor budaya lokal, nikmatin alam, atau coba aktivitas outdoor seru plus kuliner dengan pemandangan kece — Ubud punya semuanya. Pengin tahu lebih banyak tips Ubud? Klik di sini
Tema Akomodasi di Ubud
- 【Akomodasi Ubud Bali】30+ Rekomendasi Akomodasi Khas Ubud, Nikmati Petualangan Ajaib di Tengah Pemandangan Alam Bali!
- 【Rekomendasi Akomodasi Ubud】Villa Ubud dengan Kolam Renang: Surga Privat 20+ Villa Bali yang Memukau
- Rekomendasi Akomodasi Yoga di Ubud Bali: 10 Pilihan Impian dengan Kelas Yoga dan Relaksasi Jiwa
- 18 Resor Ramah Keluarga dengan Kids Club di Bali|Pilihan Terbaik untuk Liburan Keluarga di Kuta, Seminyak, Canggu, Jimbaran, Uluwatu, dan Ubud
- Liburan Keluarga ke Bali: Rekomendasi Villa Sewa Utuh di Ubud untuk 3, 4, 5, 6 Kamar atau Lebih
🍦 Massimo Ice Cream|Antreannya nggak pernah sepi
Malamnya pas balik ke Sanur, ya pasti beli lagi dong 🤣
Kali ini aku beli es krim Massimo.

Massimo Italian Restaurant (foto oleh Lai Jiaying)
Tempat ini emang kapan pun selalu antre. Nggak peduli siang atau malam, depan tokonya selalu penuh orang.
Tapi harus diakui, emang ada alasannya kenapa seramai itu. Rasanya super banyak pilihan!
Intinya:
Murah, ukuran gede, rasa-nya juga kuat banget.
Gampang banget pas order mikir ‘aku makan satu scoop aja deh’, eh ujung-ujungnya jadi dua scoop 🤣
🛍️ Balik hotel mandi, malemnya lanjut mode belanja titipan
Balik hotel mandi, ganti baju, malemnya jalan kaki lagi ke ICON Bali Mall di sebelah.
ICON Bali Mall
Beberapa hari ini hampir tiap hari mampir 🤣 Langsung masuk mode ‘belanja online titipan’.
Sanur sekarang makin nyaman banget. Banyak barang nggak perlu jauh-jauh ke Kuta atau Seminyak, di sini udah lengkap banget belanjanya.
Dan yang paling penting — nggak perlu macet. Ini sih bener-bener penting banget.
Day 5|Kejar lumba-lumba subuh, kasih makan monyet di jalan gunung, ditutup sempurna sama Cuca 🐬
Beberapa hari sebelumnya masih slow travel, tapi Day 5 bener-bener “hari yang bikin tenaga terkuras” 🤣
Jam tiga subuh udah berangkat dari Sanur, langsung meluncur ke utara menuju Lovina. Meskipun capeknya sampe ngerasa hidup dipertanyakan, pas liat lumba-lumba muncul, langsung mikir: “Oke, worth it.”
🐬 Kejar lumba-lumba subuh|Sunrise di Lovina Beach bener-bener kayak mimpi
Langit masih gelap pas kita sampe di Lovina Beach.
Dokumentasi Lai Jiaying
Terus naik perahu tradisional lokal (Jukung) buat kejar lumba-lumba di laut.
Jujur sih, awalnya bangun jam segitu bener-bener berat banget.
Apalagi pas tengah malam naik mobil ke Bali Utara, di perjalanan rasanya kayak lagi melayang-layang.
Tapi begitu kapal jalan sebentar, lumba-lumba tiba-tiba mulai muncul.
Dan bukan cuma satu dua ekor. Satu kawanan langsung loncat-loncat di samping kapal.
Semua orang di kapal langsung teriak-teriak kegirangan 🤣 Adegan itu beneran bikin langsung melek.
Ditambah sunrise yang perlahan naik dari garis horizon, langit berubah dari biru tua ke oranye kemerahan, suasananya terasa nggak nyata banget.
Tapi wajib diingat:
🌊 Bawa baju dan celana ganti. Ombaknya beneran bisa langsung nyembur ke dalam kapal.
Apalagi yang duduk di depan, kemungkinan basahnya gede banget 🤣
Pas perjalanan pulang, mampir di tempat kasih makan monyet di pinggir jalan gunung.
Di Bali banyak tempat ada monyet, tapi monyet di sini jelas lebih kalem. Beda sama yang di Uluwatu, ada yang langsung rebut kacamata, rebut HP 🤣
Di sana dikenain biaya masuk (tapi aku lupa berapa sih 😆), bisa beli makanan buat kasih mereka.
Beberapa monyet bahkan duduk manis nunggu dikasih makan, beda banget sama monyet-monyet ‘preman’ di Uluwatu.
☕ Taman Kopi di Pegunungan|Tempat Istirahat di Perjalanan Pulang
Terus pas perjalanan pulang, mampir lagi ke sebuah taman kopi di pegunungan buat istirahat.
Kebun kopi kayak gini sebenernya banyak di daerah pegunungan Bali, keunggulannya hampir semua teh dan kopi bisa dicoba gratis.
Mulai dari jahe, teh vanilla, sampai berbagai kopi rasa ada.

Disediakan oleh Lai Jiaying
Yang paling terkenal ya pasti kopi luwak. Satu cangkir sekitar 50 ribu IDR.
Di sini juga bisa lihat langsung proses pengolahan biji kopi, plus banyak teh dan kopi yang bisa dibeli langsung.
Menurutku tempat kayak gini cocok banget jadi tempat singgah pas perjalanan jauh. Duduk santai, nikmatin angin, lihat pemandangan gunung — bikin badan jauh lebih nyaman.
🍫 Jungle Gold Bali|Surganya pecinta cokelat
Lanjut lagi jalan-jalan sambil makan, sampe ke pabrik cokelat 🤣
Jungle Gold Bali
Bagian paling berbahayanya adalah —
Semua cokelat bisa dicoba gratis 😆😆
Dan bukan cuma asal coba doang. Banyak rasa yang tropis banget, kayak kelapa, garam laut, rempah-rempah — semuanya ada.
Awalnya cuma mau ‘liat-liat doang’, eh ujung-ujungnya bawa pulang satu bungkus 🤣
Termasuk dalam 【Rekomendasi Pengunjung】Panduan Oleh-Oleh Bali Lebih dari 20 Item dalam 6 Kategori: Pilihan Terbaik untuk Mengenang Momen Berharga
🍛 Babi Guling yang Ditemukan Secara Acak di Pinggir Jalan
Siang itu nggak sengaja cari tempat terkenal, malah berhenti di sebuah warung Babi Guling pinggir jalan.
Babi Guling
Kadang makanan terenak di Bali emang nggak selalu ada di tempat dengan rating tinggi di Google Maps.
Kulit babi yang renyah, daging cincang yang juicy, ditambah sambal pedas — bener-bener maksiat banget.
Dan warung kayak gini biasanya super lokal. Orang-orang yang makan di sebelah hampir semuanya warga lokal, jadi rasanya kayak ‘hari ini beneran bukan di kawasan turis’.
💤 Balik Hotel Langsung Mati Gaya
Sesampainya di Sanur, hal pertama yang kulakuin adalah mandi.
Setelah garam laut, keringat, dan capek seharian kena angin & panas terik hilang, langsung tidur nyenyak.
Bukan lebay, lho. Sampai level ‘begitu baring langsung nggak sadar diri’ 🤣
Sore harinya nggak ada jadwal apa-apa, murni buat recovery badan yang udah kelelahan beberapa hari ini.
🍽️ Cuca|Tiap ke Bali, Tetep Bikin Tercengang
Setelah puas tidur, jam enam malam tepat berangkat.
Makan malam puncak malam ini, adalah Cuca—tempat yang hampir tiap ke Bali pasti pingin kunjungi lagi.

Cuca Restaurant Bali — rekomendasi dari Lai Jiaying
Bukan fine dining yang lebay, tapi bikin kamu mikir: ‘Setiap hidangan beneran dipikirin dengan serius.’
Kreasi menu, cocktail, sama dessert-nya semuanya berkualitas banget.
Suasananya juga nyaman banget. Nggak terlalu kaku, tapi tetap terasa elegan.
Setelah begadang ngejar lumba-lumba, perjalanan jauh, dan capek di jalan pegunungan, akhirnya ditutup dengan dinner yang bikin sedikit mabuk — rasanya kayak titik sempurna buat birthday blind trip ini.
Sekarang kalau lihat ke belakang Day 5, rasanya kayak:
‘Gimana sih aku bisa bertahan hari itu 🤣’
Day 6|Penyucian Air Suci, Makan Siang di Sawah, Mampir ke Rumah Sopir, dan Dapet Kejutan Upgrade Ultah 🎂
Sampai hari keenam, ritme perjalanan berubah total lagi dari hari-hari sebelumnya.
Kalau kemarin-kemarin tuh masih eksplorasi Bali, hari ini lebih kayak perlahan-lahan masuk ke keseharian hidup orang Bali.
Pagi-pagi berangkat dari Sanur, naik ke daerah pegunungan tengah, lalu turun lagi ke Jimbaran — ini hari perpindahan yang penting banget di perjalanan ini.
👋 Check-out, pamit dari Sanur yang udah ditempatin beberapa hari
Setelah sarapan santai, resmi check-out.
Beberapa hari nginep di Sanur tuh nyaman banget — pantai, mal, tempat pijat, restoran semuanya dekat jalan kaki.
Begitu barang udah di mobil, artinya masa slow living ini selesai.
Sekarang siap balik ke alam, lanjut ke itinerary healing hari ini.
🧘♀️ Taman Beji Griya Waterfall|Upacara Penyucian Lima Tahap
Perhentian pertama adalah tempat pemurnian yang lagi populer banget akhir-akhir ini — Taman Beji Griya Waterfall.

Taman Beji Griya Waterfall (foto oleh Lai Jiaying)
Yang paling terkenal di sini adalah ritual pemurnian air suci lima tahap (Melukat).
Berbeda dengan air terjun yang bisa kamu kunjungi sendiri, seluruh prosesnya dipandu oleh staf — mulai dari berdoa, membersihkan diri, hingga mandi air suci di setiap tahap, semuanya terasa sakral banget.
Meskipun kamu bukan penganut agama tertentu, kamu tetap bisa merasakan betapa pentingnya pemurnian dan berkah dalam budaya Bali.
Kalau kamu perempuan dan mau ikut ritual ini, saran sih langsung pakai baju renang aja di dalam biar lebih praktis.
Selain Melukat, di area ini juga ada banyak pengalaman penyembuhan khas Bali lainnya, seperti ritual pemberkatan, terapi energi, dan lain-lain. Tapi biasanya kena biaya tambahan.
Taman Beji Griya # Retret Jiwa & Pengalaman Penyembuhan Diri
Suasananya dikelilingi pepohonan hijau, ditambah suara air terjun dan gemericik air, bikin kamu benar-benar merasa jauh dari hiruk-pikuk kota.
🍚 Catavaca Jatiluwih|Makan Siang di Tengah Sawah Terasering Warisan Dunia
Setelah upacara pembersihan selesai, lanjut perjalanan ke area pegunungan.
Siang harinya, makan di restoran pemandangan Catavaca dekat sawah terasering Jatiluwih.

Catavaca Jatiluwih (foto oleh Lai Jiaying)
Di depan mata langsung terhampar sawah terasering Jatiluwih yang masuk Warisan Dunia.
Jatiluwih Rice Terraces
Dibandingkan Tegallalang, di sini jauh lebih sedikit fasilitas komersial, tapi lebih luas dan tenang.
Sawah terasering membentang sampai ke kaki gunung di kejauhan, kelihatan seperti karpet hijau raksasa.
Hari ini pesan bubur khas Indonesia.
Awalnya nggak berekspektasi tinggi, ternyata enak banget 😋
Teksturnya lembut banget, pas dimakan bareng topping-nya terasa pas di mulut — kelihatannya simpel tapi bikin nagih terus.
Kadang makanan paling mengejutkan saat traveling bukan dari tempat terkenal, melainkan temuan kecil yang nggak disangka-sangka.
🏠 Kejutan Tak Terduga|Diundang Mampir ke Rumah Sopir
Perjalanan selanjutnya bisa dibilang salah satu pengalaman paling spesial sepanjang trip.
Sopirku tiba-tiba ngajak aku mampir ke rumahnya dengan antusias.
Jujur, kalau ini pertama kali ke Bali, mungkin aku nggak bakal berani nerima ajakan kayak gini.
Tapi karena udah akrab selama beberapa hari, akhirnya aku putuskan buat ikut lihat.
Begitu sampai, baru sadar kalau ini bukan pengalaman yang gampang didapat turis biasa.
Sopirku ngajak aku keliling rumah tradisional Bali, memperkenalkan altar keluarga, halaman, dan ruang tinggal anggota keluarganya.
Bener-bener beda banget sama Bali yang biasa kamu lihat di hotel atau tempat wisata.
Ini mah kehidupan asli.
Ibunya supir punya toko kecil.
Begitu lihat ada tamu datang, langsung keluarin minuman dan camilan buat disuguhin.
Meskipun bahasa nggak terlalu nyambung, tetep kerasa banget keramahannya.
Yang lebih bikin kaget, mereka malah ngajakin aku buat ikut makan malam.
Sikap ramah yang nggak pake pamrih itu bikin hati banget.
Kadang kenangan paling berharga dari traveling itu bukan tempatnya, tapi orang-orangnya.
🐟 Sup Ikan Legendaris Kuta|Sederhana tapi Nggak Terlupakan
Sebelum makan malam, mampir dulu ke Kuta buat nyobain sup ikan di warung legendaris lokal.

Dokumentasi: Lai Jiaying
Sup ikan khas Bali beda banget sama yang biasa kita temui di Indonesia.
Dimasak dengan berbagai rempah lokal, sama sekali nggak amis.
Kaldunya manis alami, ada sensasi sedikit asam pedas di akhir — bikin nagih dan buka selera.
Setelah seharian keliling, minum semangkuk sup ikan hangat tuh rasanya kayak badan langsung dicharge ulang.
🛍️ Belanja Terakhir|Stok Oleh-Oleh
Menjelang akhir perjalanan, pasti nggak afdol kalau nggak belanja sekali lagi.
Sekalian di Kuta, buruan mampir ke toko langganan buat nambah stok oleh-oleh.

Disumbang oleh Lai Jiaying
Semua camilan, mi instan, kopi, bumbu dapur — semuanya masuk koper.
Setiap kali ke Bali, aku pikir udah cukup belanja.
Tapi pas mau pulang, tetep aja nggak tahan buat beli lagi 🤣
🏨 Kejutan Ultah|Free Upgrade ke Kamar Sea View Super Besar
Malamnya check-in di Prabhu Jimbaran Bay Beach Resort.
Jimbaran Bay Beach Resort & Spa by Prabhu
Awalnya biasa aja sih pas check-in.

Disumbang oleh Lai Jiaying
Gak nyangka, pas petugas resepsionis lihat paspor, tiba-tiba dia senyum dan bilang ke aku:
「Happy Birthday!」
Terus dia bilang hotelnya kasih upgrade kamar gratis.
Waktu itu aku udah seneng banget sih.
Tapi pas beneran buka pintu kamar, kejutannya baru dimulai.
Pas buka pintu balkon, di depan mata ada pemandangan laut tanpa penghalang sama sekali.
Matahari terbenam perlahan turun ke garis cakrawala.
Warna oranye, pink, dan emas berpadu di antara langit dan laut.
Saat itu rasanya beneran:
「Kado ulang tahun ini gede banget, ya.」
banget 🧡❤️
Dan perjalanan kejutan ulang tahun ini pun diakhiri dengan senja terindah yang nggak terduga.
Jimbaran Bay Beach Resort & Spa by Prabhu












Cek ketersediaan & harga kamar: Agoda Trip Booking
Day 7|Hari santai di Jimbaran tanpa buru-buru 🌅
Sampailah di hari ketujuh, akhirnya nggak ada alarm, nggak ada kejar-kejaran, dan nggak ada itinerary yang harus dipenuhi.
Hari ini hampir sepenuhnya dihabiskan di Jimbaran, bener-bener masuk mode liburan.

Dokumentasi: Lai Jiaying
🌅 Jalan-jalan di pantai & sarapan dengan pemandangan laut
Pagi-pagi jalan-jalan ke pantai, lihat laut yang tenang dan matahari yang perlahan naik.
Balik ke hotel sambil sarapan dan nikmatin pemandangan laut, jarang banget bisa nggak mikir apa-apa, cuma pengin santai aja.

Foto oleh Lai Jiaying
🔮 Pijat & Ngobrol dengan Pemangku Adat
Pertama booking pijat relaksasi satu jam, lalu mampir ketemu pemangku adat lokal buat ngobrol.
Dia bilang:
“Kamu udah numpuk terlalu banyak energi kacau, pikiran dan perasaan campur aduk, hati dan otak nggak selaras.”
Terus dia nambahin:
“Bukan kamu yang milih Bali, bukan juga Bali yang milih kamu, tapi jiwamu yang emang berasal dari Bali.”
Denger itu langsung ngakak 🤣🤣
Tapi kalau dipikir-pikir, udah berkali-kali ke Bali, kayaknya ada benernya juga sih.
🏊 Sore Santai di Pool Bar
Balik ke hotel, langsung nyantai di pool bar sambil bengong.
Sekalian ngobrol-ngobrol sama dua bule ganteng di sebelah, bahas traveling dan kehidupan.
Tanpa rencana, tanpa tujuan — santai kayak gini baru namanya liburan sejati.
🌄 Lihat Sunset dan Pesawat dari Atap
Sore harinya naik ke rooftop hotel buat nikmatin welcome drink gratis dari hotel.
Sambil menikmati sunset di Jimbaran, aku terus ngelihatin pesawat take off dan landing.

Dokumentasi: Lai Jiaying
Setiap kali lihat pesawat mendarat atau lepas landas, aku selalu bisikin dalam hati:
Safe landing. Safe flight.
Kayaknya ini udah jadi kebiasaan kecilku setiap ke Bali.
Dokumentasi: Lai Jiaying
🍜 Makan Malam Ultah di Bakmi Akiu
Malam itu, temen lokal sengaja naik motor dari rumah buat nemenin aku makan malam ulang tahun.
Setelah ngobrol, baru tahu kalau dia harus naik motor bolak-balik selama lebih dari 4 jam.
Denger ceritanya bikin terharu banget 🥹

Dokumentasi: Lai Jiaying
Makan malamnya Bakmi Akiu, berdua habis sekitar 10 ribuan IDR (sekitar USD$6), sederhana tapi terasa hangat banget.
Abis makan, lanjut ngopi di Kopi Kenangan seberang sambil ngobrol, biar momen langka ini terasa lebih lama.
🍹 Selamat malam, Jimbaran
Balik ke hotel, sendirian di balkon sambil pesan minuman.
Dokumentasi: Lai Jiaying
Lagi asyik ngelamun sambil nikmatin angin laut, tiba-tiba langit malam dipenuhi kembang api tanpa aba-aba.
Melihat satu per satu kembang api mekar dan lenyap di atas garis pantai, hatiku jadi agak campur aduk.
Perjalanan ini hampir selesai.
Dan aku sadar, hari-hari meninggalkan Bali mulai dihitung mundur lagi. 🌴✨
Day 8|Bawa pulang kehangatan, siap pulang 🤍
Tanpa terasa, trip blind box ulang tahun ini udah sampai di hari terakhir.
Dibanding hari-hari sebelumnya yang penuh perjalanan dan eksplorasi, hari ini lebih kayak perpisahan yang pelan-pelan.

Disediakan oleh Lai Jiaying
🍳 Sarapan dengan pemandangan laut untuk terakhir kalinya
Pagi-pagi sarapan bareng Kak Vicky.
Sambil ngobrol soal pengalaman seru beberapa hari ini, dan perubahan perasaan yang nggak terduga selama perjalanan.
Ada hal-hal yang saat itu belum tentu ada jawabannya, tapi kalau dilihat ke belakang, pasti ada alasannya kenapa hal itu hadir di hidup kita.
🌅 Pandang sekali lagi garis pantai Jimbaran
Setelah packing, sengaja naik lagi ke rooftop hotel.
Ngeliat pemandangan garis pantai Jimbaran yang udah akrab, tiba-tiba jadi agak berat ninggalinnya.
Setiap kali ke Bali rasanya begini.
Padahal belum pergi, tapi udah mulai kangen.
☕ Secangkir Kopi, Kehangatan yang Berlanjut
Setelah check out dari hotel, aku mampir ke kafe untuk ketemuan sama Kak Candy, orang Taiwan yang punya sekolah selancar di Kuta.
Aku kasih langsung baju-baju yang sengaja kubawa dari Taiwan.
Melihat baju-baju ini nantinya bisa jadi dukungan nyata buat warga lokal, rasanya ada kepuasan tersendiri yang susah dijelaskan.

Dokumentasi: Lai Jiaying
Sambil ngopi dan ngobrol, nggak ada rencana khusus sih.
Tapi justru obrolan tulus antarmanusia kayak gini yang jadi penutup paling manis dari perjalanan ini.
🛫 Dadah, Bali
Sesampainya di bandara dan selesai check-in, aku masih duduk di dekat jendela sambil lihat pesawat take off dan landing.
Pesawat-pesawat perlahan lepas landas.
Pesawat-pesawat mendarat dengan selamat.
Masih aja nggak tahan buat motret mereka, sambil dalam hati bilang:
Safe landing. Safe flight.
Dokumentasi Lai Jiaying
✨ 8 Hari Post-Trip Blind Box Birthday Trip
Selama 8 hari ini, yang paling berharga sebenarnya bukan tempat-tempat wisatanya.
Tapi orang-orang yang kutemui di sepanjang jalan.
Sopirnya (mama-mama) nyempetin tangan aku penuh sama camilan dan minuman;
Teman rela naik motor bolak-balik 4 jam lebih, cuma buat nemenin aku makan mie ulang tahun;
Dan juga kembang api ulang tahun yang tiba-tiba muncul di luar balkon tanpa ada tanda-tanda sebelumnya.
Sekarang kalau aku lihat ke belakang, mungkin aku mulai paham apa yang dimaksud sama pendeta itu.
Bukan aku yang memilih Bali.
Tapi keramahan orang-orang di sini yang bikin aku terus balik lagi ke sini.
Aku suka Bali, bukan cuma karena pemandangan laut, makanan enak, atau sunset-nya.

Tapi lebih karena pulau ini selalu bikin aku ketemu sama orang-orang yang tulus dan hangat.
Yang tersisa dari perjalanan bukan cuma foto dan kenangan.
Tapi juga momen-momen di mana aku merasa diterima dengan kebaikan hati.
Koleksi Cerita Perjalanan Bali

Lihat lebih banyak cerita perjalanan Bali di sini
Kamu juga pengen bikin catatan perjalanan tapi bingung mulai dari mana? Coba deh intip "Cara Menulis Catatan Perjalanan Bali yang Keren", biar catatan perjalananmu makin kece!