Kalau akhir-akhir ini kamu cari berita tentang Bali, mungkin kamu lihat gambar-gambar ini: tumpukan sampah setinggi pinggang di pinggir jalan, sungai yang bau busuk, warga bakar sampah di lahan kosong, ratusan truk sampah demo di depan kantor gubernur…
Ini bukan desa terpencil, lho — ini terjadi di Denpasar, Kuta, jantung pariwisata Bali yang paling ramai.
Pemicu masalahnya adalah TPA tua berusia 40 tahun yang sudah di ujung jalan.
TPA Suwung: Bom Waktu Besar yang Bertahan 40 Tahun
TPA Suwung terletak sekitar 10 km di timur laut Bandara Internasional Denpasar. Dulu, tempat ini mengolah hampir 1.000 ton sampah per hari — bukan cuma dari Kota Denpasar, tapi juga dari Kabupaten Badung, Gianyar, Tabanan. Artinya, hampir seluruh sampah dari kawasan wisata utama Bali selatan berakhir di sini.
Masalahnya, TPA ini sudah kelebihan kapasitas sejak lama. Menurut Nur Azizah, ahli pengelolaan sampah dari Universitas … (nama universitas tidak disebut), sampah organik di Suwung mencapai 70% — ini sangat berbahaya. Penumpukan sampah organik dalam jangka panjang menghasilkan metana yang bisa memicu ledakan dan longsor. Kecelakaan seperti ini sudah terjadi beberapa kali. Pada Maret lalu, TPA terbesar di Indonesia (di pinggiran Jakarta) longsor dan menewaskan 7 orang.
1 April: Larangan Tanpa Persiapan Matang
Mulai 1 April 2026, TPA Suwung berhenti total menerima sampah organik, dan direncanakan tutup permanen pada 1 Agustus. Kebijakannya bagus, tapi masalahnya di lapangan: solusi alternatifnya belum siap sama sekali.
Hasilnya bisa ditebak. Sampah mulai menumpuk di jalanan, menarik tikus berkumpul, bau busuk menyebar; warga yang sudah kehabisan akal mulai membakar sampah di halaman rumah atau lahan kosong di dekatnya, asap hitam menyengat yang dihasilkan sudah menimbulkan kekhawatiran kesehatan masyarakat.
Penduduk Denpasar, Tyas Ardi, bilang: “Orang-orang di dekat rumahku terus membakar sampah, asapnya memenuhi udara, bau plastik terbakar bikin khawatir banget.”
Bukan cuma rumah tinggal, di pinggir jalan, sungai, taman, bahkan sekitar sekolah juga mulai ada tumpukan sampah. Di beberapa tempat, sampah sudah berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan tidak diangkut.

Dilema Sopir Truk Sampah: Sudah Diangkut, Tapi Mau Dibuang ke Mana?
Lebih dari 400 sopir truk sampah bersatu, mereka langsung membawa truk-truk berisi sampah organik yang bau busuk ke depan kantor pemerintah sebagai protes.
Salah satu pengunjuk rasa, I Wayan Tedi Brahmanca, menyuarakan isi hati semua petugas kebersihan: “Kalau kami tidak mengambil sampah pelanggan, itu salah kami; tapi kalau sudah diambil, kami bingung mau dibuang ke mana — ini gimana dong?”
Di Pinggir Pantai Kuta, Kantong Sampah Menumpuk Setinggi Pinggang
Di dekat area parkir dan jalur pejalan kaki Pantai Kuta, sudah terlihat tumpukan kantong sampah. Kepala Dinas Pariwisata Pantai Kuta, I Nyoman Arya Arimbawa, bilang tim kebersihan di satu sisi membersihkan, di sisi lain masih ada yang buang sampah sembarangan, jadi nggak ada habisnya. Apalagi sampah-sampah ini kelihatannya dibawa dari luar Kuta.
Wisatawan asal Australia, Justin Butcher, yang ada di lokasi bilang: “Malam hari banyak tikus di sini, baunya juga nggak enak… pemandangannya jelek banget.”
Respons Pemerintah: Dibuka Sementara, Jangka Panjang Masih Misteri
Menghadapi gelombang protes, Menteri Lingkungan akhirnya mengalah. TPA Suwung sekarang hanya menerima sampah organik dua kali seminggu — tapi kebijakan darurat ini cuma bertahan sampai 31 Juli. Setelah Agustus gimana? Belum ada jawaban pasti.
Solusi jangka panjangnya adalah membangun fasilitas Waste-to-Energy di Benoa yang rencananya bisa mengolah 1.200 ton sampah per hari. Tapi meskipun konstruksinya lancar, butuh beberapa tahun sampai benar-benar beroperasi.
Sesuai aturan yang berlaku, siapa pun yang ketahuan membuang atau membakar sampah ilegal bisa kena hukuman penjara maksimal tiga bulan dan denda Rp50 juta (sekitar USD$3.200). Tapi banyak warga bilang mereka nggak punya pilihan lain.
Testimoni Langsung dari Member Grup Kami
Data dan berita itu satu hal, tapi pengalaman orang yang benar-benar ke sana beda lagi. Member grup kami yang baru balik dari Taiwan, Zhang Changyong, bilang “nggak ada pengaruh”, Li Yingjie juga bilang “nggak kok”; Fiona Wu yang baru dua hari lalu ke Sanur juga bilang masih oke.
PeacefulNectarine bilang dengan jujur: “Sebenernya biasa aja, orang-orang di sana emang nggak terlalu peduli lingkungan, tapi nggak sampai kotor banget atau menjijikkan.”
Feedback ini mencerminkan kenyataan: dampak krisis sampah sangat berbeda di tiap area. Di Nusa Dua dan Sanur, karena hotelnya padat dan pengelolaannya ketat, dampak ke pengalaman traveling masih relatif terbatas. Tapi di Kuta dan pusat kota Denpasar, masalahnya sudah keliatan banget.
Lebih Banyak Rekomendasi Makan, Minum, dan Main di Sanur

Sanur adalah sebuah kota kecil di tepi pantai di Bali yang penuh dengan ketenangan, terkenal dengan pantainya yang tenang, suasana santai, dan pemandangan matahari terbit yang spektakuler. Di sini ada resor ramah keluarga, pasar tradisional, dan beragam kuliner lokal yang kaya — tempat ideal buat menikmati slow living sambil eksplorasi budaya. Mau jalan-jalan di sepanjang garis pantai atau merasakan vibes lokal, Sanur bakal kasih kamu liburan super santai! Mau tahu lebih banyak tips Sanur? Klik di sini
Penginapan di Sanur
- Rekomendasi Akomodasi di Bali: 20+ Resor/Villa di Sanur, dari Mewah sampai Budget
- Panduan Liburan Keluarga ke Bali Saat Liburan Sekolah: Panduan Lengkap Biar Liburan Keluarga Makin Santai - Seri Sanur
- Penghargaan Tertinggi "Hotel Baru Terbaik di Indonesia 2026" The Meru Sanur
- Wisata Grup ke Bali: Rekomendasi Villa Pribadi di Sanur untuk 3/4/5/6+ Kamar, Cocok buat Keluarga Besar
Kalau Mau ke Bali Sekarang, Siap-siap Aja
Ini bukan berarti kamu nggak boleh pergi. Tapi kalau kamu punya rencana ke Bali dalam waktu dekat, ada beberapa hal yang perlu kamu tahu:
Prioritasin nginep di Nusa Dua atau Sanur — hotel di dua area ini lebih ketat ngelola sampahnya, lokasinya juga bikin sampah laut susah masuk, dan lingkungan jalannya relatif lebih bersih.
Kuta dan Legian saat ini agak kurang stabil, kalau ke sana kamu mungkin bakal nemu tumpukan sampah atau bau kurang sedap. Buat yang jijikan atau bawa anak kecil, mesti ekstra hati-hati.
Jangan asal kasih sampah ke ‘pengepul’ pinggir jalan, karena dengan keterbatasan infrastruktur, nggak jelas banget sampah itu bakal dibuang ke mana.
Krisis penutupan TPA di Bali ini, intinya adalah akibat dari utang infrastruktur yang menumpuk selama puluhan tahun. Kebijakan jalan duluan, tapi pendukungnya belum siap — yang repot ya warga dan pengelola sampah di lapangan. Soal kondisi setelah Agustus, belum ada yang bisa pastiin — pulau ini lagi berlomba dengan waktu.
Lebih Banyak Rekomendasi Makan, Minum, dan Main di Nusa Dua

Nusa Dua adalah kawasan di Bali yang terkenal dengan resor mewahnya. Punya pantai pasir putih, air laut biru jernih, dan fasilitas wisata yang lengkap — cocok banget buat kamu yang cari liburan tenang dengan pengalaman kelas atas. Di sini juga ada spa premium, olahraga air, dan aktivitas santai yang cocok untuk seluruh keluarga. Surga banget buat semua tipe traveler. Mau tahu lebih banyak tips Nusa Dua? Klik di sini
Penginapan di Nusa Dua
- Bali Nusa Dua 16 Resor Bintang 5 Terbaik yang Diakui Publik
- Nusa Dua Liburan Keluarga Musim Panas & Musim Dingin: 9 Highlight & Rekomendasi Ramah Anak
- Pengalaman Liburan Unik di Bali - Akomodasi Mewah: Hotel Apurva Kempinski Bali
- 18 Resor Keluarga dengan Kids Club di Bali|Pilihan Terbaik untuk Liburan Keluarga di Kuta, Seminyak, Canggu, Jimbaran, Uluwatu, Ubud
- Taman Hiburan Keluarga Bali: 15 Resor dengan Seluncuran Air TOP 15