Data terbaru yang dirilis 8 Maret 2025 menunjukkan permintaan wisata internasional ke Bali terus meningkat meski di musim sepi.

Menurut data Imigrasi Bandara Internasional Bali, jumlah penumpang yang keluar-masuk Bandara Bali pada Januari 2025 naik 22% dibanding periode yang sama tahun 2024. Kepala Bagian Informasi dan Komunikasi Teknologi Imigrasi, Alexander Maxwell, mengungkapkan bahwa pada Januari 2025 total 611.603 orang tiba di Bali, sementara 632.833 orang meninggalkan Bali. Biasanya jumlah keberangkatan di bulan Januari lebih tinggi dari kedatangan karena wisatawan pulang setelah liburan Natal dan Tahun Baru.
Maxwell bilang, wisatawan asing masih jadi yang terbanyak, mencapai 540.122 orang, naik 27% dibanding tahun lalu. Jumlah warga negara Indonesia yang datang juga naik 30% menjadi 53.490 orang, sementara awak pesawat sebanyak 17.991 orang, naik 20%.
Pada Januari 2025, negara asal wisatawan internasional utama Bali masih mirip seperti biasanya, 10 besar antara lain:
- Australia (139.577 orang)
- China (61.984 orang, termasuk Hong Kong dan Taiwan)
- India (36.514 orang)
- Korea Selatan (35.172 orang)
- Rusia (26.794 orang)
- Malaysia (21.771 orang)
- Inggris (20.569 orang)
- Amerika Serikat (18.627 orang)
- Singapura (15.942 orang)
- Jepang (12.112 orang)

Gubernur Bali, Wayan Koster, menyebut pariwisata punya dampak besar bagi ekonomi Indonesia secara keseluruhan, bahkan di musim sepi sekalipun. Pada 2024, Provinsi Bali menyumbang 107 triliun rupiah untuk pariwisata nasional, atau 44% dari pendapatan devisa. Koster menekankan bahwa ekonomi Bali sangat bergantung pada pariwisata, ke depannya perlu ada transformasi struktur ekonomi untuk menyeimbangkan sektor pariwisata dan non-pariwisata.
Pariwisata menyumbang 66% dari pendapatan Provinsi Bali. Koster optimis dengan peningkatan jumlah wisatawan internasional dalam 12 bulan terakhir, tapi juga khawatir dengan pertumbuhan permintaan wisata domestik yang lambat. Untuk wisatawan lokal Indonesia, pada 2024 Bali hanya menerima 9,4 juta wisatawan domestik, jauh di bawah level sebelum pandemi yang mencapai lebih dari 10,5 juta per tahun.
Koster menganalisis, pemulihan pariwisata domestik yang lambat disebabkan oleh ekonomi nasional yang belum sepenuhnya pulih dan harga tiket pesawat domestik yang mahal. Hal ini tidak hanya memengaruhi warga Indonesia, tapi juga menghambat minat wisatawan internasional untuk menjelajahi daerah lain di Indonesia. Biaya penerbangan domestik yang tinggi jadi hambatan besar bagi wisatawan yang mencari nilai lebih.